Laskar Pelangi, Akhirnya Lengkap Juga

Sebelumnya mo menghela nafas dulu.
Huuuuuufff..
Aku beli banyak buku bulan ini. Gara2nya ada diskon di gramedia. Beli buku Maryamah Karpov, buku keempat tetralogi Laskar Pelangi dan buku lainnya, total ada 7.
Arrggh..aku emang ga tega mengabaikan buku yang melambai2 memanggilku untuk mendekat.

Senang kali rasanya tetralogi LP akhirnya lengkap juga, terbayar sudah rasa penasaran ini.
Saat membaca 3 buku sebelumnya, sempat menebak2 kenapa judul buku ke-4 nya Maryamah Karpov. Kirain cewek yang main biola di sampul buku adalah A Ling. Dan dia telah berhasil belajar musik ke luar negeri dan menjadi musisi ternama. Trus nama panggungnya Maryamah Karpov..
Ternyatah..!!!?

Ah, Andrea bisa aja memilih judul. Maryamah Karpov hanya disebut sekali saja dan isi bukunya sama sekali gak menceritakan judulnya.
Tapi satu nama itu telah menggelitik dan mewakili dari kebanyakan orang Melayu yang hobi memberi gelar kepada orang lain yang banyak disebut dalam ceritanya.

Penasaran? Ayo baca..

Terima kasih buat penulis yang telah berbagi kisah mengagumkan ini. Aku sangat menghargainya.
Ikal sangat beruntung punya teman2 seperti Lintang, Arai dan lainnya.
Sangat beruntung.

Hijrah

Mari hijrah menuju ke arah yang lebih baik. Terutama dalam keimanan dan ketakwaan.

“Ya Allah, mohon bimbingan selalu bagi hamba-Mu yang masih muallaf ini” 🙂

Selamat Tahun Baru 1 Muharram 1430 Hijriah to all of you, my friends…

Aku Hanya Ingin Menanam

Katanya bumi mulai tua.

Bongkahan es di kutub utara mencair. Pemanasan global.
Kita seperti sedang dipermainkan cuaca. Baru saja pagi hari dingin menusuk tulang, beberapa saat berubah menjadi panas terik menggigit kulit dan tanpa diduga bisa saja dalam sekejap turun hujan yang teramat deras.

Para pecinta alam -dan seharusnya kita semua juga- giat mengkampanyekan gerakan Go Green, suatu bentuk gerak nyata yang bisa kita lakukan dalam keseharian tanpa harus mendaftar sebagai anggota Mapala, Green Peace atau organisasi lingkungan lainnya.

Cukup dengan hemat air, listrik, BBM, kertas, dan berbagai sumber daya alam. Atau dengan menjaga kebersihan lingkungan, tidak membuang sampah sembarangan. Itu juga tindakan mulia.

Ribet juga sebenarnya, aku mulai rajin memilah sampah plastik, kertas dan sampah basah. Bukan apa-apa, sebelumnya mau yang simpel dan cepat aja, taruh semua sampah dalam satu plastik besar biar praktis. Tapi terkadang belum sempat diangkut truk dinas kebersihan, sering sampah itu terserak kembali.
Ternyata banyak orang yang masih membutuhkan apa yang kita anggap sampah. Miris memang, banyak yang menggantungkan hidup darinya.
Walau hati sedikit kesal melihatnya, aku tak ingin marah pada orang yang masih mau bekerja halal demi sesuap nasi.

Jadilah ada beberapa bungkusan yang memang sengaja kukumpulkan. Satu bungkusan berisi sampah kertas, baik itu struk belanja, struk ATM, majalah bekas, buku yang ga dipake, bungkus sabun, odol, bungkus makeup dan kardus-kardus.
Bungkusan yang lain berisi sampah plastik, baik itu kantongan plastik, tempat bedak, hand body lotion, cube odol dan bekas makeup lainnya. Percayalah, perempuan bisa menghasilkan 5 kali lebih banyak sampah dari kaum lelaki. Apalagi kalau perempuan yang gila belanja. Hehe.

Gapapalah, toh cuma ini sementara yang bisa kulakukan. Untuk naik ke gunung dan menanam kembali hutan yang gundul aku belum sempat. Nih customer-customer ku mau dikemanakan, buuk..?

Teringat customer yang ku handle kemarin, seorang anak kecil yang dari suaranya mungkin masih berumur 5-7 tahun. Sebut saja Aditya.
Si adik kecil ini -yang belum masanya terpaksa harus dipanggil “Bapak” olehku karena etika kerja- cukup jeli juga.

Dia bertanya : “Mbak, saya heran. Kok sekarang tiap isi pulsa ga pernah pas ya. Beli pulsa 10 ribu kok yang masuk cuma 9 ribuan berapa gitu. Udah sering kali gini. Kenapa ya, mbak? Apa ada yang salah dengan kartu saya?”.
Aku tersenyum sebentar. Nih anak bokap nyokapnya kemana ya? Hehe mungkin ini anak orang berada yang masi esde udah pake henpon sendiri. Lalu aku jawab, “Bapak isi pulsa 10 ribu pakai voucher yang ada gambar tangan lagi pegang tanaman ya?”.
“Iya betul, mbak”, jawabnya.
“Itu merupakan voucher khusus yang diterbitkan dalam rangka program Indonesia Menanam. Setiap voucher dipotong 10 rupiah untuk disumbangkan demi kelestarian lingkungan. Jadi dana yang terkumpul digunakan untuk gerakan menanam pohon yang digalakkan pemerintah. Benar, pulsa yang akan Bapak terima adalah 10 ribu dikurang 10 rupiah, yakni 9.990. Bapak bisa baca keterangannya di belakang voucher”, jelasku.
“Ooo gitu ya. Makasih..makasih ya, mbak”, nada suaranya kedengaran gembira sepertinya dia merasa ikut berperan serta. Padahal masih anak kecil, loh.

Terima kasihku buat si adik kecil yang telah mengingatkanku kembali untuk ikut menanam. Hari ini aku teringat ada tanaman serai yang kuminta 2 minggu yang lalu dari kakakku. Oow, ternyata udah kering setengah. Aku kelupaan menanamnya. Bismillahirrahmanirrahim.. Mudah-mudahan masih bisa tumbuh. Dan karena lagi keranjingan, kebetulan tadi bikin jus mangga, langsung bijinya aku tanam juga di belakang rumah. Soalnya di depan sudah ada satu, kalau banyak-banyak ntar dikira rumahku ladang mangga pulak. Haha.

Hmm.. waktu ke belakang rumah terlihat olehku tumbuhan berbunga putih dan ku tanya sama tanteku bunga apakah gerangan. Bukan sulap bukan sihir, ternyata bunga itu tumbuh sendiri tanpa ditanam. Dan tanteku lebih nyaman menyebutnya “rumput”. Dan bunganya bisa dijadikan boor water, cairan untuk mencuci mata.
Ya, “rumput” itu ternyata memiliki bunga putih yang indah. Teringatku postingan boor water yang ditulis Devga.
Akhirnya “rumput” itupun kutanam. Siapa tahu ada yang membutuhkan, pikirku. Gak hanya sampai disitu, bunga di depan rumah juga kupotong sebagian untuk ditanam di tempat lain, juga “rumput” lain yang tumbuh di samping rumah.

Walau bukan pohon besar berdaun lebat dan berakar besar penyerap air, hanya tanaman bumbu dan beberapa “rumput”. Biarlah..
Sebagai tanda bahwa aku peduli. Tidak hanya diam dan masa bodo.

Aku hanya ingin menanam. Bagaimana dengan kamu, teman?

Abang Bewok

Beres2 lemari, nemu foto2 jadul. Jadi ingat temen2 lama.
Masa belajar dulu emang masa yang seru. Waktu sekolah atopun kuliah. Banyak kegilaan yang terjadi di masa2 itu. Dan tentunya jadi memori daun pisang yang indah untuk dikenang.

Ada 1 foto temen kos2an dulu. Bang Edwin dan bang bewok (duh..musti ke warnet dulu nih buat scan, berhubung lagi males ga usah diupload aja yah potonya). Aku cerita kejadian lucunya aja bareng mereka.
Bang bewok itu cuma julukan aja, karena dia gemar sekali memelihara jambang dan segala bulu2 di wajah. Hehe.

Seperti biasa kalo wiken ato liburan kita sering jalan kemana gitu buat refreshing. Kadang segerombolan satu kos ato berkelompok2 aja.

Minggu siang itu, aku dan 2 abang kosku itu jalan ke Medan mall. Disana dulu banyak banget copet, orang tereak2 begitu turun dari angkot udah jadi hal yang lumrah.

Begitu turun dari angkot, ranselku langsung disambut sama copet. Untung terasa waktu dia coba buka sleting tasku. Aku menoleh dan si copet langsung mendadak pura2 pincang dan jalan menjauh. Aku cuma bisa kaget waktu itu terus menceritakannya kepada temenku.

Untuk selanjutnya, jalan menuju mall kita jalan berderetan. Bang edwin di depan, bang bewok di belakang, sedang aku ditengah demi menjaga keamanan.

Rame banget waktu itu, jalan juga berdesakan. Sampe di mall kita window shopping lah tentunya sambil ngobrol. Bang bewok bilang kalo selama menuju ke mall tadi aku hampir dicopet untuk kedua kalinya.
“Ga terasa apa2 kok tadi. Lagian tasku juga baik2 aja”, jawabku.

Trus bang bewok cerita pas di keramaian waktu desak2an, ada seorang cowok yang mendekatiku dan tangannya dah siap2 membuka resleting tasku. Tapi begitu si copet ingin menjalankan aksinya, bang bewok langsung menangkap pergelangan tangannya sambil geleng kepala dan bilang “Jangan!”.
Si copet menjawab “Kenapa? Punya kau ya, lae?” [lae sapaan untuk laki2 dalam bahasa batak / prokem medan].
Si copet pun berlalu meninggalkanku dan mencari korban baru.

Aku dan bang edwin cuma bisa ketawa ngakak. Ternyata, bang bewok disangka copet jugak.
Puas kami ngetwain dia waktu itu (betapa kurang asemnya kami, hihi).

Duh, miss my old friends lah..
Tag nya aku bikin nama2 mereka aja deh. Sapa tau ada yang iseng ngetik nama sendiri di search engine, trus nyasar kemari. Dah pada lost contact semua, siapa tau bisa reuni.

Do you miss your old friends, too?

[Diam dan tanda tanya itu] sama sekali gak lucu

Nemu coretan lama nih secara tak sengaja. Just sharing. Mungkin bisa jadi pembuka visi bagi yang gundah gulana karena cinta. Ciee..
Dan harus tetap yakinkan diri kalo hidup ini indah. Hadapi semua dengan senyuman.
Yuk mari dibaca..

Lama aku berpikir
Benarkah kau sosok itu?
Kemarin baru saja kau hangatkan hatiku
Belum 1×24 jam, sudah kau bekukan kembali

Seorang sahabat berkata
Cinta tak semestinya menyakiti
Yang kutau cinta itu indah
Denganmu entah kenapa semua berbeda

Semula aku berpikir
Memang seperti itulah mungkin seharusnya
Kadang tawa, kadang tangis
Memang harus berwarna

Tapi..
Lama kelamaan ini gak asik lagi
Kadar luka itu terlalu besar prosentasenya
Ya, memang terasa berwarna
Dan warna itu mendominasi
Abu-abu, hitam dan menjadi gelap
Aku tidak melihat lagi warna yang lain
Hanya pekat

Kenapa aku bisa begitu sabar
Sakit, menyakiti dan tersakiti lagi
Semula aku berpikir itulah cinta
Tetap sabar walau sakit
Tapi lama kelamaan ini gak asik lagi

Enough!
Aku tau kau merasa tak punya tantangan
Mudah bagimu untuk diam dan berlalu
Tapi tidak untukku
Satu diammu seribu tanda tanya untukku

Begitu banyak tanda tanya
Kuraba satu persatu, aku ingin menemukan jawaban
Atau setidaknya tanda titik
Agar aku bisa berhenti bertanya

Kurasa Itu Cuma Adegan Sinetron

Kesalahan terbesar sebagai jomblo yang merantau adalah jarang mengunjungi sepasang manusia mulia yang telah menghadirkan kita ke dunia. Akhir2 ini kuputuskan untuk mengunjungi orang tua sesering mungkin. Apa kali lah yang kukejar di dunia ini, pikirku. Manusia sekarang emang harus dihadapkan pada kondisi yang menyebabkan diri ini tetap [merasa] sibuk setiap saat pada pekerjaan. Hingga kadang lupa untuk memberi warna pada kehidupan. Hanya ada putih, hitam dan abu-abu. Hidup tak seharusnya hanya monokrom dan datar. Masih ada pilihan warna di pallet itu yang belum tersentuh. masih banyak irama yang belum dimainkan. [Ngomong apaan sih?]

Akhirnya kuputuskan untuk mengunjungi orang tua sesering mungkin. Solusinya ya, aku harus bisa menej waktu libur sebisa mungkin. Tugas cuci-setrika dan beresin rumah terpaksa dialihkan ke orang lain. Bukan mo gaya2an ya, masih sendiri aja [OS lagi!!], udah pake asisten segala. Tapi ya biar bisa punya waktu aja gitu. Jadilah sekarang aku hampir lupa pada bentuk sapu dan sikat baju. Hehehe. Masih mending lah, daripada bokap nyokap yang lupa wajahku. Ya nggak?

Bulan lalu.
Libur sehari itu, aku pulang ke rumah orang tuaku. Nginap semalam, besok siangnya harus buru2 cabut karena harus masuk kerja lagi. Siang itu panasss kali kurasa. Nyampe di Medan aku langsung mandi, siap2 mo kerja. Pake acara basah rambut lagi saking gerahnya.
Pelajaran pertama : jangan keramas siang bolong saat cuaca teriknya minta ampun dan suhu badan belum normal. Pokoknya jangan.

Nyampe di kantor, ada yang aneh. Setiap orang ngomong aku dengernya 2 kali. Bah bergema. Serasa berada di goa.
Satu hari. Biarin aja, mungkin besok dah baikan.
Dua hari. Masih berdengung juga.
Tiga hari. Udah gak betul lagi ini kurasa. Ga nyaman banget.
Langsung ke Rumah Sakit M, konsul ke dokter DM, jagonya ayam THT.
Seumur2 udah 3 tahun kerja yang sehari2nya ber-headset, belom pernah bertandang ke ahli THT. Alhamdulillah ga pernah ada masalah yang serius.

Konsul dibuka sore hari. Aku nyampe menjelang maghrib dan dapet nomor antrian 10. Dan masih banyak lagi nomor besar setelahku. Sementara si dokter cuma praktek sampe jam 8 malam. Kebayang kalo ada 20 orang aja, si dokter harus tancap gas melayani pasiennya.

Tiba giliranku dipanggil. Aku masuk dan menyampaikan keluhanku.
Dokter : “sebelah mana yang sakit”
Aku sang pasien : “yang kiri dok, dengung”
Dokter : [masukin besi panjang ke telingaku]
Aku sang pasien : [pasang muka ketakutan sambil bergidik]
Dokter : [masukin si besi ke hidung]
Aku sang pasien : [apa2an sih ini?]
Dokter : “sering flu ya?”
Aku sang pasien : “betul, dok. Ada amandel dan alergi debu. Tapi sekarang dah jarang
Dokter : “iya, jangan sering minum es ya”
[sambil corat coret resep]
Aku sang pasien : “ok, dok”
Dokter : “ini resepnya. Yang 3 ditelan. 1 obat tetes hidung. Pake sebelum tidur di sebelah kanan, trus tidurnya miring ke kiri”
Aku sang pasien : “baik, segitu aja dok?” [setengah heran]
Dokter : “iya, itu aja” [pasang senyum manis]
Aku sang pasien : “makasih ya, dok” [senyum juga]
Dokter : “sama2” [senyum lagi]
Aku sang pasien : [senyum lagi. ga mo kalah]

Ga sampe 5 minit, aku keluar ruangan dokter. Ke apotek nebus obat. Pulang.
Sampe diluar rumah sakit masih merasa mimpi. Sambil bertanya2 dalam hati, segitu doang?
Benarkah aku barusan tadi berobat? Apakah ini nyata atau hanya mimpi? [hiperbola]

Sambil senyum berkata dalam hati, kurasa itu cuma ada di adegan sinetron. Pasien dan dokter bertanya jawab sepuasnya. Membahas apa aja seputar keluhan pasiennya lebih dalam. Tadinya aku pingin dibersihkan aja telinganya, tapi takut pande2an, ngikut aja lah pikirku.
5 minit kena 400 ribu? Enak banget ya jadi dokter [sambil mandangin obat].