Kurasa Itu Cuma Adegan Sinetron

Kesalahan terbesar sebagai jomblo yang merantau adalah jarang mengunjungi sepasang manusia mulia yang telah menghadirkan kita ke dunia. Akhir2 ini kuputuskan untuk mengunjungi orang tua sesering mungkin. Apa kali lah yang kukejar di dunia ini, pikirku. Manusia sekarang emang harus dihadapkan pada kondisi yang menyebabkan diri ini tetap [merasa] sibuk setiap saat pada pekerjaan. Hingga kadang lupa untuk memberi warna pada kehidupan. Hanya ada putih, hitam dan abu-abu. Hidup tak seharusnya hanya monokrom dan datar. Masih ada pilihan warna di pallet itu yang belum tersentuh. masih banyak irama yang belum dimainkan. [Ngomong apaan sih?]

Akhirnya kuputuskan untuk mengunjungi orang tua sesering mungkin. Solusinya ya, aku harus bisa menej waktu libur sebisa mungkin. Tugas cuci-setrika dan beresin rumah terpaksa dialihkan ke orang lain. Bukan mo gaya2an ya, masih sendiri aja [OS lagi!!], udah pake asisten segala. Tapi ya biar bisa punya waktu aja gitu. Jadilah sekarang aku hampir lupa pada bentuk sapu dan sikat baju. Hehehe. Masih mending lah, daripada bokap nyokap yang lupa wajahku. Ya nggak?

Bulan lalu.
Libur sehari itu, aku pulang ke rumah orang tuaku. Nginap semalam, besok siangnya harus buru2 cabut karena harus masuk kerja lagi. Siang itu panasss kali kurasa. Nyampe di Medan aku langsung mandi, siap2 mo kerja. Pake acara basah rambut lagi saking gerahnya.
Pelajaran pertama : jangan keramas siang bolong saat cuaca teriknya minta ampun dan suhu badan belum normal. Pokoknya jangan.

Nyampe di kantor, ada yang aneh. Setiap orang ngomong aku dengernya 2 kali. Bah bergema. Serasa berada di goa.
Satu hari. Biarin aja, mungkin besok dah baikan.
Dua hari. Masih berdengung juga.
Tiga hari. Udah gak betul lagi ini kurasa. Ga nyaman banget.
Langsung ke Rumah Sakit M, konsul ke dokter DM, jagonya ayam THT.
Seumur2 udah 3 tahun kerja yang sehari2nya ber-headset, belom pernah bertandang ke ahli THT. Alhamdulillah ga pernah ada masalah yang serius.

Konsul dibuka sore hari. Aku nyampe menjelang maghrib dan dapet nomor antrian 10. Dan masih banyak lagi nomor besar setelahku. Sementara si dokter cuma praktek sampe jam 8 malam. Kebayang kalo ada 20 orang aja, si dokter harus tancap gas melayani pasiennya.

Tiba giliranku dipanggil. Aku masuk dan menyampaikan keluhanku.
Dokter : “sebelah mana yang sakit”
Aku sang pasien : “yang kiri dok, dengung”
Dokter : [masukin besi panjang ke telingaku]
Aku sang pasien : [pasang muka ketakutan sambil bergidik]
Dokter : [masukin si besi ke hidung]
Aku sang pasien : [apa2an sih ini?]
Dokter : “sering flu ya?”
Aku sang pasien : “betul, dok. Ada amandel dan alergi debu. Tapi sekarang dah jarang
Dokter : “iya, jangan sering minum es ya”
[sambil corat coret resep]
Aku sang pasien : “ok, dok”
Dokter : “ini resepnya. Yang 3 ditelan. 1 obat tetes hidung. Pake sebelum tidur di sebelah kanan, trus tidurnya miring ke kiri”
Aku sang pasien : “baik, segitu aja dok?” [setengah heran]
Dokter : “iya, itu aja” [pasang senyum manis]
Aku sang pasien : “makasih ya, dok” [senyum juga]
Dokter : “sama2” [senyum lagi]
Aku sang pasien : [senyum lagi. ga mo kalah]

Ga sampe 5 minit, aku keluar ruangan dokter. Ke apotek nebus obat. Pulang.
Sampe diluar rumah sakit masih merasa mimpi. Sambil bertanya2 dalam hati, segitu doang?
Benarkah aku barusan tadi berobat? Apakah ini nyata atau hanya mimpi? [hiperbola]

Sambil senyum berkata dalam hati, kurasa itu cuma ada di adegan sinetron. Pasien dan dokter bertanya jawab sepuasnya. Membahas apa aja seputar keluhan pasiennya lebih dalam. Tadinya aku pingin dibersihkan aja telinganya, tapi takut pande2an, ngikut aja lah pikirku.
5 minit kena 400 ribu? Enak banget ya jadi dokter [sambil mandangin obat].

Advertisements

5 thoughts on “Kurasa Itu Cuma Adegan Sinetron

  1. rosa says:

    moga cepat sembuh ya…..btw ada postingan baru neh…


    minum sebiji obatnya dah sembuh kok. habis tu dihentikan. males makan obat

  2. indo says:

    Ga pakai asuransi ya, biar ongkosnya bisa diganti lagi…


    pake sih. makanya cuma terheran2 aja.
    kalo pake uang sendiri mah, mungkin dah ngamok2.. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s