Aku Hanya Ingin Menanam

Katanya bumi mulai tua.

Bongkahan es di kutub utara mencair. Pemanasan global.
Kita seperti sedang dipermainkan cuaca. Baru saja pagi hari dingin menusuk tulang, beberapa saat berubah menjadi panas terik menggigit kulit dan tanpa diduga bisa saja dalam sekejap turun hujan yang teramat deras.

Para pecinta alam -dan seharusnya kita semua juga- giat mengkampanyekan gerakan Go Green, suatu bentuk gerak nyata yang bisa kita lakukan dalam keseharian tanpa harus mendaftar sebagai anggota Mapala, Green Peace atau organisasi lingkungan lainnya.

Cukup dengan hemat air, listrik, BBM, kertas, dan berbagai sumber daya alam. Atau dengan menjaga kebersihan lingkungan, tidak membuang sampah sembarangan. Itu juga tindakan mulia.

Ribet juga sebenarnya, aku mulai rajin memilah sampah plastik, kertas dan sampah basah. Bukan apa-apa, sebelumnya mau yang simpel dan cepat aja, taruh semua sampah dalam satu plastik besar biar praktis. Tapi terkadang belum sempat diangkut truk dinas kebersihan, sering sampah itu terserak kembali.
Ternyata banyak orang yang masih membutuhkan apa yang kita anggap sampah. Miris memang, banyak yang menggantungkan hidup darinya.
Walau hati sedikit kesal melihatnya, aku tak ingin marah pada orang yang masih mau bekerja halal demi sesuap nasi.

Jadilah ada beberapa bungkusan yang memang sengaja kukumpulkan. Satu bungkusan berisi sampah kertas, baik itu struk belanja, struk ATM, majalah bekas, buku yang ga dipake, bungkus sabun, odol, bungkus makeup dan kardus-kardus.
Bungkusan yang lain berisi sampah plastik, baik itu kantongan plastik, tempat bedak, hand body lotion, cube odol dan bekas makeup lainnya. Percayalah, perempuan bisa menghasilkan 5 kali lebih banyak sampah dari kaum lelaki. Apalagi kalau perempuan yang gila belanja. Hehe.

Gapapalah, toh cuma ini sementara yang bisa kulakukan. Untuk naik ke gunung dan menanam kembali hutan yang gundul aku belum sempat. Nih customer-customer ku mau dikemanakan, buuk..?

Teringat customer yang ku handle kemarin, seorang anak kecil yang dari suaranya mungkin masih berumur 5-7 tahun. Sebut saja Aditya.
Si adik kecil ini -yang belum masanya terpaksa harus dipanggil “Bapak” olehku karena etika kerja- cukup jeli juga.

Dia bertanya : “Mbak, saya heran. Kok sekarang tiap isi pulsa ga pernah pas ya. Beli pulsa 10 ribu kok yang masuk cuma 9 ribuan berapa gitu. Udah sering kali gini. Kenapa ya, mbak? Apa ada yang salah dengan kartu saya?”.
Aku tersenyum sebentar. Nih anak bokap nyokapnya kemana ya? Hehe mungkin ini anak orang berada yang masi esde udah pake henpon sendiri. Lalu aku jawab, “Bapak isi pulsa 10 ribu pakai voucher yang ada gambar tangan lagi pegang tanaman ya?”.
“Iya betul, mbak”, jawabnya.
“Itu merupakan voucher khusus yang diterbitkan dalam rangka program Indonesia Menanam. Setiap voucher dipotong 10 rupiah untuk disumbangkan demi kelestarian lingkungan. Jadi dana yang terkumpul digunakan untuk gerakan menanam pohon yang digalakkan pemerintah. Benar, pulsa yang akan Bapak terima adalah 10 ribu dikurang 10 rupiah, yakni 9.990. Bapak bisa baca keterangannya di belakang voucher”, jelasku.
“Ooo gitu ya. Makasih..makasih ya, mbak”, nada suaranya kedengaran gembira sepertinya dia merasa ikut berperan serta. Padahal masih anak kecil, loh.

Terima kasihku buat si adik kecil yang telah mengingatkanku kembali untuk ikut menanam. Hari ini aku teringat ada tanaman serai yang kuminta 2 minggu yang lalu dari kakakku. Oow, ternyata udah kering setengah. Aku kelupaan menanamnya. Bismillahirrahmanirrahim.. Mudah-mudahan masih bisa tumbuh. Dan karena lagi keranjingan, kebetulan tadi bikin jus mangga, langsung bijinya aku tanam juga di belakang rumah. Soalnya di depan sudah ada satu, kalau banyak-banyak ntar dikira rumahku ladang mangga pulak. Haha.

Hmm.. waktu ke belakang rumah terlihat olehku tumbuhan berbunga putih dan ku tanya sama tanteku bunga apakah gerangan. Bukan sulap bukan sihir, ternyata bunga itu tumbuh sendiri tanpa ditanam. Dan tanteku lebih nyaman menyebutnya “rumput”. Dan bunganya bisa dijadikan boor water, cairan untuk mencuci mata.
Ya, “rumput” itu ternyata memiliki bunga putih yang indah. Teringatku postingan boor water yang ditulis Devga.
Akhirnya “rumput” itupun kutanam. Siapa tahu ada yang membutuhkan, pikirku. Gak hanya sampai disitu, bunga di depan rumah juga kupotong sebagian untuk ditanam di tempat lain, juga “rumput” lain yang tumbuh di samping rumah.

Walau bukan pohon besar berdaun lebat dan berakar besar penyerap air, hanya tanaman bumbu dan beberapa “rumput”. Biarlah..
Sebagai tanda bahwa aku peduli. Tidak hanya diam dan masa bodo.

Aku hanya ingin menanam. Bagaimana dengan kamu, teman?

Advertisements

9 thoughts on “Aku Hanya Ingin Menanam

  1. Mufti AM says:

    Yang patut disayangkan ialah setiap ada pembangunan jalan di kota2 besar dapat dipastikan akan mengurangi pepohonan yang sebelumnya tumbuh di tepinya. Jarang yang kemudian dilakukan penanaman kembali. Hal itu kan membuat hawa menjadi panas karena tak ada pohon perindangnya.

  2. etikush says:

    sekitar tiga bulan lebih dikit yang lalu saya minta cabe rawit yang mateng di po-on, ke temen saya yang emang punya po-on cabe rawit.
    Trus, saya jemur bijinya, saya taburkan di kebun belakang. Nyampe tiga bulan kemudian tingginya cuma lima sentimeter.

    Emang sih, cuma saya siram pake aer beras doank…
    Karena saya gak sabar ngeliat tuh po-on cabe gak tinggi-tinggi, saya siram deh pake aer urine, eh, besoknya langsung pada kuning semua….

    Trus besoknya lagi langsung mati….

    Kata abah sih katanya po-on cabe mati gara-gara disiram aer urine anget….

    Tapi bukannya urine tuh pupuk?

    Gak tau deh…

  3. rosa says:

    gak nyaka kan klo nemu tanaman kitolod…dah cobain buat pencuci mata?gak cuman buat yg sakit aja loh, tp juga untuk perawatan mata biar putih bersih jernih….hehehhe..sy jg sampai sekarang pakek berulang kali…

  4. kniapril says:

    @ junjungpurba
    go for greener environment..

    @ wempi
    panen sereh kita ntar lagi, okey?

    @ mufti AM
    sepertinya kita telah melupakan istilah reboisasi ya

    @ sunny ae
    macak cih?

    @ indo
    let’s go

    @ etikush
    haha.. Kamu tuh ya, ada2 aja

    @ balisugar
    maaf lama ga berkunjung, lg bnyk pemotretan. Miss u, mbak..

    @ rosa
    pasti deh matanya tambah cantik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s